Wednesday, June 28, 2006
Saturday, June 24, 2006
Diskusi Bilik Jumpa Sastra
Lokalitas Sastra=eksotisme Mengapresiasi sajak-sajak Udo Z Karzi yang memakai bahasa lampung, seharusnya bukan hanya sastra yang hadir dalam medium bahasa Lampung tok. Dus dicetak supaya dibaca oleh komunitas yang berkomunikasi dalam dan dengan bahasa Lampung. Namun begitulah adanya. Udo Z membatasi apresiasi kita di wilayah itu. Udo hanya menulis. Memberi makna pada teksnya dan meminjam idiom rasa bahasa Lampung untuk sajaknya. Hal ini terungkap dalam diskusi bilik sastra di Unila beberapa waktu lalu. Udo tidak sedang memberontak terhadap kemapanan bahasa nasional apalagi terhadap kemapanan struktur bahasa Imperial, seperti keingginan Ahmad Yunus, selaku pembahas malam itu.
***
Perdebatan mengenai lokalitas dalam sastra mungkin sedang berlangsung diantara kaum liberal dan kaum “populis”. Permasalahan tersebut bukanlah persoalan bagi pembaca. Dialektika materialis berdiri di atas ini, dari cara pandang proses historis yang obyektif, karya sastra merupakan pelayan sosial dan berdasarkan sejarah bersifat utilitarian. Udo mungkin dalam barisan ini; memberikan alunan kata yang dibutuhkan bagi suasana hati yang samar dan kelam, mendekatkan atau mengkontraskan pikiran dan perasaan, memperkaya pengalaman spiritual individu dan masyarakat, memurnikan perasaan, menjadikannya lebih fleksibel, lebih responsif, memperbesar volume pemikiran sebelumnya dan bukan melalui metode personal yang berdasar pada pengalaman yang terakumulasi, mendidik individu, kelompok sosial, kelas dan bangsa. Dan apa yang disumbangkannya tersebut tidak dipengaruhi oleh permasalahan apakah sastra tersebut muncul di bawah bendera daerah atau nasional, apalagi yang bertendensi pada sebuah kasus tertentu.
Usaha mendefinisikan sastra lokal, hanya mengandaikan satu kesusasteraan yang terkungkung dan dikungkung oleh satu lokalitas. Karna jika lingkungan dan relasi produksi telah mempengaruhi seni, lalu tidakkah tema-tema seni akan terikat pada tempat-tempat yang terhubung dalam relasi-relasi itu saja? Padahal tema tak terbatas wilayah bukan? Meski kita sudah terbiasa menerima kehadiran sastra lokal tanpa mempertimbangkan vitalnya aspek eksklusivitas sastra bersangkutan. Bahkan cenderung menerimanya sebagai sesuatu yang inklusif hingga terbuka pada pengaruh asing. Ketika kita membaca sajak-sajak Udo Z, meski memakai bahasa Lampung secara teramat personal, kita tetap bisa meraba dan melihat bayang-bayang pola ekspresi Ws Rendra. Maka kita tak bisa menyebut itu sebagai sastra lokal Lampung. Semua itu jelas merujuk kepada sebuah pola dan mode estetika dan ekspresi sajak modern
Terminologi lokalitas yang coba ditekankan secara eksklusif itu selalu dibarengi sikap permisif dan toleran mengandaikan sifat inksklusif sehingga estetika, ekspresi, idiomatik, kekayaan budaya, seting sosial, filsafat dan seterusnya dari satu komunitas (budaya) bisa beralih dan dipinjam oleh komunitas (budaya) lainnya. Ini agar teks sastra mutakhir satu komunitas (budaya) mendapat pengayaan verbal dan substansial. Karna lingkungan tidak mengekspresikan dirinya sendiri dalam sastra. Jika bias! maka muncullah argumen dari mana asal muasal ide cerita Simalin Kundang berasal? Apakah dongeng itu murni Sumatra Selatan, atau telah bersintesa dengan keragaman budaya lain. Untuk menyebutkan bahwa lingkungan seseorang, termasuk seorang sastrawan, yaitu kondisi dari pendidikan dan kehidupannya, menemukan ekspresi dalam seninya bukanlah berarti menyatakan bahwa ekspresi seperti itu memiliki karakter geografis, etnografis, dan karakter statistikal yang sama persis. Tidaklah mengejutkan bahwa adalah sulit untuk memutuskan apakah sebuah novel ditulis
Kreasi artistik tentu saja bukanlah omelan meskipun ini juga merupakan pembelokan, sebuah perubahan dan transformasi realita, sesuai dengan hukum-hukum kekhususan seni. Sejauh apapun seni fantasi melangkah, dia tak bisa menolak material lain kecuali apa yang diberikan dunia tiga dimensi dan masyarakat berkelas padanya. Bahkan saat sorang artis menciptakan sorga dan neraka, dia hanya mentransformasikan pengalaman dari hidupnya dalam phantasmagoria. Kita juga tahu kalau tidak ada lagi rasa, aroma, substansi dan hakikat Lampung di
Isu sastra lokal hanya ada dalam khazanah sastra
Lokalitas adalah eksotisme. Sebuah bagian dari genre sastra romantik - sejak setengah abad lalu menggejala di dalam tradisi balada. Sebagai eksotisme, hal itu menjadi semacam kegenitan 'dandyisme' yang menyebabkan sebuah teks sastra tampil kemayu. Setengah tidak dipahami oleh apresiator yang berbeda latar, budaya dan bahasa (ibu) dari si sastrawan, karenanya terpaksa dibuatkan catatan kaki - atau pengantar oleh kritikus apresiatif yang banyak membualkan eksotisme bagi turis.
* * *
Bila tak punya motif menjual eksotisme lokal bagi orang kebanyakan di pasar, kenapa mereka masih memilih bahasa
Tapi apa benar lokalitas (sastra) berhubungan dengan pangsa pasar? Ekslusivitas karya sebenarnya berjiwa inklusif dan memiliki efek finansial? Jadi, selalu ada langit di luar dan langit di dalam diri setiap sastrawan?
Bilik Jumpa Sastra, Minggu, 24 Juni 2006
Wednesday, June 14, 2006
Goal
Tiga belas hari sebelum peluit pertama piala dunia ditiup di stadion Munich Jerman. Sang wasit jagat raya telah mengoyang Yogya dengan 6,3 Skala Richter di pagi buta 27 mei. Kabar tersiar, korban bertambah. Dua-lima hari, posko bantuan menjamur, sukarelawan penuhi jalan dengan kardus bertulis dana bantuan Yogya dan Jawa Tengah. Kampus ikut, pegawai rektorat dipotong gaji. Saya dan beberapa teman di UKM ngamen dan melelang buku untuk disumbangkan. Dua-lima hari itu, hampir semua orang berdecak iba. Media mempropokasi masa menyiarkan air mata, gempa menelan korban 6.234 jiwa dan ratusan rumah yang ringsek. Koran, televisi dan radio, berlomba membuka pundi amal. Acara lawak yang biasa saya tonton tidak lucu, tidak juga membuat saya menangis. Padahal Taufik Safalas merubah mimik mukanya sesedih mungkin. Mereka bilang ini diluar skenario. Dus, malam itu mereka hanya mengundang penyayi dan membuka premium call mengalang dana. Ya, dua—
Tanggal sepuluh, seorang teman yang kuliah di Yogya datang pagi-pagi temui saya. Padahal mata ini masih berat, malam saya begadang nonton partai pertama piala dunia dan mengkomentari sang komentator Titik Prabowo Suharto. Saya salah satu penggagas nontong bareng dengan kawan-kawan di gedung PKM malam itu. Nama teman saya itu Peter Pratama, mahasiswa Psikologi UII Yogya. Dia dijemput pulang oleh orang tuanya dua hari lalu. Dia bilang dia tidak nonton bola semalam, makanya saya menceritakan aksi tendangan jarak jauh pemain Jerman Torsten Frings. Namun cerita saya tidak membuat dia tertarik. Peter malah jengkel dengan cerita saya. Dia bilang tidak mungkin bisa menikmati piala dunia, masih terbayang karibnya ditimpa beton kos-kosan dan orang-orang berteriak memohon ampun pada sang kuasa. Bahkan sekarang disela hujan yang menguyur Yogya, para korban gempa masih takut dengan gempa atau Tsunami susulan. Peter bercerita tentang bagaimana warga Yogya marah benar, ketika ada orang yang memotret puing reruntuhan. Mereka bilang “ini bukan objek wisata, yang perlu difoto” bahkan dibeberapa tempat kata-kata itu ditulis. Menurut Peter di yogya kehidupan mandek, ekonomi pupus, mereka perlu dibantu untuk bangkit. Uh..Seperti terbanggun dari mimpi rasanya, hari itu saya benar-benar ditegur, untungnya itu dari Peter.
Setelah pertemuan saya dengan Peter, keesokannya saya niatkan untuk melebihkan proporsi baca koran dan nonton Televisi seputar isu gempa Yogya dan Jateng. Kebetulan saya pembaca setia Lampung post, Kompas, Majalah Tempo dan member tempointeraktif.com. Sialnya, saya hampir tidak temukan berita gempa Yogya, jika pun ada itu pun dihalaman dalam, biasanya cerita tentang perusahaan apa bantuannya apa mengirim Yogya, beritanya ditambah foto sang direktur perusahaan menyerahkan bantuan secara simbolis. Selebihnya berita piala dunia. Namun ada juga media menempatkan kamera atau reporternya untuk memantau secara kontiyue di Yogya. Salah satu contoh ada berita yang saya pikir bisa mengambarkan kondisi Yogya. Kompas 11/06, memberitakan seorang relawan asing yang juga dokter dinyatakan menderita gangguan jiwa. Menurut dokter yang menanggani relawan tersebut, “ia tidak kuat menghadapi kenyataan banyaknya korban dan kerusakan fisik yang ditimbulkan akibat gempa, hal inilah yang membuat jiwanya terguncang dan mengalami gangguan jiwa.” Lanjut, Kompas mencatat, sedikitnya ada 16 orang yang mengalami hal serupa. Gila karna menyaksikan bencana masal ini. Namun berita macam ini sangat langka dimedia. Jika dibanding berita piala dunia, mungkin hanya nol koma persen. Bahkan Lampung Post membuat suplemen delapan halaman khusus mengulas piala dunia. Walau hanya SCTV yang secara resmi mempunyai hak siar, namun pengelola televisi lain, tidak kalah akal, mereka menayangkan ulasan, sorotan, kilas, pengalaman pertandingan, dan banyak lagi. Bahkan sekarang segala acara hiburan seperti lawak, kuis, sampai reality show, menyerempet bola. Inilah pesona bola yang membuat SBY merasa perlu mengundang Atlet nasional untuk nonton bareng di Istana.
Namun seperti cerita saya tadi, saya sempat lupa dengan gempa di Yogya. Ini mungkin karna saya yang kurang peka dan terbawa suasana ciptaan media. Terus terang saya malu dan mempertanyakan integritas diri saya sendiri. Ini seharusnya menjadi evaluasi kita pada media. Lihatlah dua—
P ojok PKM, 14 Juni 2006
Pers Mahasiswa di Lampung Post
Tuesday, June 13, 2006
PUISI

Namun sebenarnya bukanlah Goenawan Moehamad yang buat saya menulis Puisi. Ceritanya di minggu pertama bulan april saya mewawancarai Rendra si Burung Merak. Rendra datang ke Lampung di undangan LSM DAMAR untuk berkampanya menolak RUU/APP di depan ratusan orang undangan. Saya tidak benar-benar ingin wawancara, saya hanya inggin mengungkapkan kesan saya ketika dia membacakan 3 puisinya. Itu kali pertama saya menyaksikan langsung si Burung Merak baca puisi, dampaknya jangan ditanya, saya terkagum. Salah satu puisi yang di baca berjudul 'Maskumambang' puisi ini dibuat rendra 4 April lalu, malam itu tanggal 8 april. Maskumambang berumur 4 hari ketika dibacakan didepan saya. Ada bait yang selalu saya inggat dalam Maskumambang. begini bunyinya: Cucu-cucuku! Zaman macam apa, peradaban macam apa, yang akan kami wariskan kepada kalian! Jiwaku menyanyikan tembang maskumambang. Kami adalah angkatan pongah. Besar pasak dari tiang. Kami tidak mampu membuat rencana menghadapi masa depan.
Bait ini saya tanyakan kepada Rendra. Saya bilang mas Willy apakah 'maskumambang' adalah sikap dari Mas Willy terhadap RUU/APP? Dia jawab, "Maskumambang itu bahasa jawa, yang artinya emas Yang mengambang." Lalu Rendra meneruskan bait puisi diatas:
Karena kami tidak menguasai ilmu Untuk membaca tata buku masa lalu, dan tidak menguasai ilmu untuk membaca tata buku masa kini, maka rencana masa depan hanyalah spekulasi keinginan dan angan-angan.
"menurut kamu apa makna nya?" Rendra bertanya, Saya sungkan, saya tidak menjawab apa, Saya bilang implisit ada sesuatu dalam puisi barusan terngiang dibenak saya dan banyak maknanya. Rendra meneruskan, ini bait terakhir dari Maskumambang itu.
“Mas Willy!” istriku datang menyapaku. Ia melihat pipiku basah oleh airmata. Aku bangkit hendak berkata. “Sssh, diam!” bisik istriku, “Jangan menangis. Tulis sajak. Jangan bicara.”
Lalu kamipun ngobrol, dia tanya fi'il orang lampung itu seperti apa. Rendra juga banyak cerita tentang wawasan kebangsaan. Diakhir obrolan dia berpesan "Ada kalanya orang payah berbicara dan jenuh mendengar rektorika, jika kau dalam kondisi itu, ikut saran istri saya 'jangan menangis tulis sajak jangan bicara'."
Mungkin malam ini disela-sela gempita piala dunia dan disela hujan yang mendera korban gempa Yogya, puisi ini tertulis begitu saja menahan air mata saya.
Tabik
Gelombang Peradaban
Bumi manusia terbelah digetarkan Nyiur melambai tengelam diterjang Lagu cinta menjadi obat para pelayat Penyumbang sumbang mencari sumbangan
OI, akar peradaban yang tak berbatang tak berdaun
Diledakannya bom oleh manusia, sebagai sajen persembahan Kesedihan disulapnya menjadi hiburan dalam kotak bercahaya *bumi manusia melihatnya, Sang pencipta adalah jurinya
Kita telah temukan muasal minyak bumi Baranya mengebul didetik waktu manusia. Kini harimau mati tanpa belang, Dan manusia mati karna perang.
OI, ini zaman kita, peradaban manusia.
*Bumi manusia: Adalah Judul Buku pertama Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, Pojok PKM, 12 Juni 2006
Cinta Manusia
Sudah biar saja kau yang lakukan Karna mereka sibuk berbicara cinta Tak usah pula kau ikut bicara, Karna percuma, jika hanya bicara
Cium dan harumi pula semua aroma Mawar-melati dan juga bangkai, Mungkin kau akan menghirup cinta manusia: Sebuah citarasa budaya manusia yang dangkal
*Berita
Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang terus menimbulkan kontroversi sampai saat ini, menurut WS Rendra, seperti dalam draft-nya menunjukkan sikap anti seksual (aseksual) dan anti gairah hidup manusia.Budayawan, seniman dan sastrawan kondang itu, berbicara pada Kaulan Rakyat bertema "Refleksi Pornografi dalam Bingkai Pluralisme dan Globalisasi" diselenggarakan LSM Damar di Bandar Lampung, Sabtu malam, mengingatkan isi dari RUU APP yang bersifat anti seksual dan anti gairah itu adalah tidak sehat bagi kehidupan masyarakat Indonesia.Menurut dia, RUU APP itu mencoba mengatur hal-hal yang menjadi gairah dan naluri yang ada dalam diri setiap orang dengan pengaturan secara berlebihan.Padahal gairah seksual pada diri manusia merupakan karunia Illahi yang justru membuat manusia bersemangat untuk terus hidup dan juga baik bagi kesehatan, asalkan dijalankan secara benar dan wajar, kata WS Rendra pula.Dia pun menilai, agama Islam dan agama umumnya bukanlah agama yang aseksual dan a-erotis dan tidak pernah memberikan larangan orang untuk bergairah pada lawan jenisnya."Allah menciptakan perbedaan dan nafsu yang kita miliki juga diciptakan Allah untuk menggunakan akal sehat disalurkan, sehingga dapat menilai mana yang benar atau salah, baik atau tidak, pantas dan tidak pantas," cetus WS Rendra lagi.Ia juga menyebutkan bahwa agama Islam melarang orang untuk berzinah, tapi membolehkan berpoligami.Karena itu, WS Rendra berpendapat, dengan nafas RUU APP yang anti erotis dan aseksual, merupakan pengaturan bagi masyarakat secara tidak sehat dan tidak baik.Dalam RUU itu, WS Rendra menilai, terdapat hal-hal yang dipaksakan untuk dirumuskan, termasuk persoalan gairah dan nafsu birahi. Padahal wajar setiap lelaki melihat wanita cantik kemudian memunculkan gairah."Kalau saya lihat ada perempuan cantik, eh, Alhamdulillah, ada ciptaan Tuhan secantik ini," cetus WS Rendra pula.Namun kalau sampai terus menerus memandangi perempuan cantik itu, tanpa mengontrol diri, menurut dia, sama saja dengan merendahkan diri seolah betul-betul terikat dengan duniawi, sehingga harus cepat mengontrol dan mengendalikan diri agar tidak melakukan aktivitas yang salah.Rendra menyatakan, seharusnya saat ini yang perlu diajarkan oleh para pendidik, pengkhotbah dan penganjur agama adalah bagaimana manusia dapat mengontrol birahinya, tidak justru mengajarkan untuk menjadi anti birahi dan anti seksual.Kendati begitu WS Rendra mengakui bahwa persoalan ponografi adalah masalah yang serius, kalau sudah menyangkut hal-hal yang tidak layak dipertontonkan kepada masyarakat umum.Dia pun menguraikan perbedaan sikap dan adat dalam peradaban dunia, berkaitan dengan persoalan erotisme dan pornografi itu.Pornoaksi Lebih BahayaRendra melihat, bagi umumnya negara di Asia, khususnya Asia Tenggara, pornografi itu tidak menjadi masalah yang besar mengingat hanya terkait lebih banyak dengan persoalan gambar. Yang jadi masalah, menurut Rendra, adalah pornoaksi."Pornoaksi yang terjadi pada umumnya negara-negara di Asia ini, itu yang lebih bahaya," kata dia.Pornoaksi dalam pandangan Rendra adalah mempertontonkan aktivitas seksual di muka umum, sehingga dapat menjadi masalah yang serius kalau tidak ditangani dengan baik.Rendra juga menilai keberadaan penerbitan khususnya majalah yang termasuk porno, sebenarnya dilakukan secara sengaja untuk mengeksploitasi seksualitas sesuai dengan selera pasar untuk memuaskan pembacanya.Namun begitu, di sejumlah negara Eropa dan AS, peredaran penerbitan seperti itu hanya dijual di tempat tertentu.Majalah Playboy, menurut Rendra mencontohkan, orientasinya jelas untuk memenuhi keinginan pasar walaupun dikemas secara pintar dengan memasukkan pula tulisan berisikan wawancara untuk menunjukkan intelektualitas tinggi."Tapi pada bagian lain majalah itu, justru sangat rendah intelektualitas karena porno, tapi itu dilakukan sebagai bagian politik pasar yang sangat cerdas," kata Rendra.Rendra mengaku sudah membaca isi draft RUU APP dan berkomentar bahwa isi RUU itu sebenarnya bukanlah soal moralitas, melainkan "sok moralis" hanya dengan mengaitkan soal hasrat seksualitas dengan moralitas padahal ada hasrat untuk melakukan korupsi yang juga menunjukkan sikap amoral."Bagaimana mungkin bicara moralitas hanya terkait dengan seksualitas, tapi perilaku korupsi yang juga mesti dilawan tidak dikaitkan dengan moralitas pula," tanya Rendra.Sebagai seniman, Rendra juga mencemaskan, kalau RUU APP itu menjadi undang-undang akan banyak sekali karya seni yang terkena karena dianggap termasuk pornografi."Jadi mau diapakan karya seni seperti di candi-candi dan patung-patung dengan menampilkan wanita telanjang dan sejenisnya itu," cetus dia.Padahal menurut Rendra, dalam kesenian, gambaran orang bersenggama dapat menjadi simbol bersatunya jiwa dan raga.Rendra justru melihat nafsu dan birahi bisa menciptakan kekhusyukan dalam ibadah dan iman seseorang untuk menicptakan kebaikan, memperkuat iman dan tidak terjerat pada pemaksaan atau perkosaan menjadi sebuah kekuatan rohani yang luhur.Rendra mengingatkan, kalau dibiarkan RUU APP itu dapat menimbulkan kekuasaan pada seseorang untuk melakukan pelarangan dalam ruang pribadi, menyangkut iman dan akal sehat yang seharusnya tetap dibiarkan bebas dan tidak diatur-atur secara berlebihan oleh negara dan hukum.RUU itu, lanjut Rendra, juga dapat menimbulkan konflik kultural dan struktural, seperti munculnya ancaman dari warga masyarakat Bali dan warga kita di wilayah Timur Indonesia untuk melakukan gerakan memisahkan diri dari negara kita."Upaya negara untuk menguasai rohani dan akal manusia seperti dilakukan melalui RUU APP itu adalah tindakan fasisme, bagaimana mungkin pula tindakan berburuk sangka dan was-was bisa dilembagakan, semua itu justru menyalahi ketentuan agama dan memusuhi gairah serta daya hidup sebagai manusia," demikian Rendra.Kaulan Rakyat yang digelar di B''Coffe di Bandar Lampung yang berada di dekat salah satu ruas jalan cukup ramai di Bandar Lampung itu dihadiri ratusan orang seperti kalangan aktivis LSM, mahasiswa, aktivis perempuan, anggota legislatif, parpol, wartawan dan masyarakat umum.Selain Rendra, juga berbicara SN Laila (Direktur Eksekutif LSM Perempuan Damar), dan Agung Sasongko, Wakil Ketua Pansus RUU APP DPR-RI dari Fraksi PDIP.Dalam Kaulan itu, dilakukan pula telewicara dengan sejumlah tokoh, seperti Permadi (anggota DPR) dan Anand Krisna (tokoh spiritualis) yang tegas menyatakan menolak isi RUU APP yang ada saat ini.