Wednesday, June 14, 2006

Goal

Tiga belas hari sebelum peluit pertama piala dunia ditiup di stadion Munich Jerman. Sang wasit jagat raya telah mengoyang Yogya dengan 6,3 Skala Richter di pagi buta 27 mei. Kabar tersiar, korban bertambah. Dua-lima hari, posko bantuan menjamur, sukarelawan penuhi jalan dengan kardus bertulis dana bantuan Yogya dan Jawa Tengah. Kampus ikut, pegawai rektorat dipotong gaji. Saya dan beberapa teman di UKM ngamen dan melelang buku untuk disumbangkan. Dua-lima hari itu, hampir semua orang berdecak iba. Media mempropokasi masa menyiarkan air mata, gempa menelan korban 6.234 jiwa dan ratusan rumah yang ringsek. Koran, televisi dan radio, berlomba membuka pundi amal. Acara lawak yang biasa saya tonton tidak lucu, tidak juga membuat saya menangis. Padahal Taufik Safalas merubah mimik mukanya sesedih mungkin. Mereka bilang ini diluar skenario. Dus, malam itu mereka hanya mengundang penyayi dan membuka premium call mengalang dana. Ya, dua—lima hari itu semua perhatian tertuju pada Yogya dan Jateng. Pada gempa yang membinasakan. Sekali lagi dua—lima hari.

***

Tanggal sepuluh, seorang teman yang kuliah di Yogya datang pagi-pagi temui saya. Padahal mata ini masih berat, malam saya begadang nonton partai pertama piala dunia dan mengkomentari sang komentator Titik Prabowo Suharto. Saya salah satu penggagas nontong bareng dengan kawan-kawan di gedung PKM malam itu. Nama teman saya itu Peter Pratama, mahasiswa Psikologi UII Yogya. Dia dijemput pulang oleh orang tuanya dua hari lalu. Dia bilang dia tidak nonton bola semalam, makanya saya menceritakan aksi tendangan jarak jauh pemain Jerman Torsten Frings. Namun cerita saya tidak membuat dia tertarik. Peter malah jengkel dengan cerita saya. Dia bilang tidak mungkin bisa menikmati piala dunia, masih terbayang karibnya ditimpa beton kos-kosan dan orang-orang berteriak memohon ampun pada sang kuasa. Bahkan sekarang disela hujan yang menguyur Yogya, para korban gempa masih takut dengan gempa atau Tsunami susulan. Peter bercerita tentang bagaimana warga Yogya marah benar, ketika ada orang yang memotret puing reruntuhan. Mereka bilang “ini bukan objek wisata, yang perlu difoto” bahkan dibeberapa tempat kata-kata itu ditulis. Menurut Peter di yogya kehidupan mandek, ekonomi pupus, mereka perlu dibantu untuk bangkit. Uh..Seperti terbanggun dari mimpi rasanya, hari itu saya benar-benar ditegur, untungnya itu dari Peter.

Setelah pertemuan saya dengan Peter, keesokannya saya niatkan untuk melebihkan proporsi baca koran dan nonton Televisi seputar isu gempa Yogya dan Jateng. Kebetulan saya pembaca setia Lampung post, Kompas, Majalah Tempo dan member tempointeraktif.com. Sialnya, saya hampir tidak temukan berita gempa Yogya, jika pun ada itu pun dihalaman dalam, biasanya cerita tentang perusahaan apa bantuannya apa mengirim Yogya, beritanya ditambah foto sang direktur perusahaan menyerahkan bantuan secara simbolis. Selebihnya berita piala dunia. Namun ada juga media menempatkan kamera atau reporternya untuk memantau secara kontiyue di Yogya. Salah satu contoh ada berita yang saya pikir bisa mengambarkan kondisi Yogya. Kompas 11/06, memberitakan seorang relawan asing yang juga dokter dinyatakan menderita gangguan jiwa. Menurut dokter yang menanggani relawan tersebut, “ia tidak kuat menghadapi kenyataan banyaknya korban dan kerusakan fisik yang ditimbulkan akibat gempa, hal inilah yang membuat jiwanya terguncang dan mengalami gangguan jiwa.” Lanjut, Kompas mencatat, sedikitnya ada 16 orang yang mengalami hal serupa. Gila karna menyaksikan bencana masal ini. Namun berita macam ini sangat langka dimedia. Jika dibanding berita piala dunia, mungkin hanya nol koma persen. Bahkan Lampung Post membuat suplemen delapan halaman khusus mengulas piala dunia. Walau hanya SCTV yang secara resmi mempunyai hak siar, namun pengelola televisi lain, tidak kalah akal, mereka menayangkan ulasan, sorotan, kilas, pengalaman pertandingan, dan banyak lagi. Bahkan sekarang segala acara hiburan seperti lawak, kuis, sampai reality show, menyerempet bola. Inilah pesona bola yang membuat SBY merasa perlu mengundang Atlet nasional untuk nonton bareng di Istana.

Namun seperti cerita saya tadi, saya sempat lupa dengan gempa di Yogya. Ini mungkin karna saya yang kurang peka dan terbawa suasana ciptaan media. Terus terang saya malu dan mempertanyakan integritas diri saya sendiri. Ini seharusnya menjadi evaluasi kita pada media. Lihatlah dua—lima hari hebohnya mereka mencari simpati audiacenya, agar pembaca, menonton, dan pendengar terfokus pada media mereka. Sensasi gempa yang menelan korban 6.234. Dua—lima hari pasca piala dunia, siapa yang tau gempa membesar di lampung. Dan mungkin hanya dua—lima hari media dan relawan sibuk, bagai mana dengan kita?

P ojok PKM, 14 Juni 2006

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home