Monday, May 01, 2006

Selamat Jalan Pramoedya Ananta Toer

06-02-1925 30-04-2006

Minggu pagi 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer tidak membakar sampah, dan dia tidak sedang terbakar amarah. Dia meninggal dunia.

“Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai malu tersipu. Tak perlu lagi orang bertapa bertahun untuk dapat bicara dengan seseorang di seberang lautan. Orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India! Dan kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi. Seluruh dunia kini dapat mengawasi tingkah-laku seseorang. Dan orang dapat mengawasi tingkah-laku seluruh dunia” — (Bumi Manusia, hal. 316, 1980)

Menit Ketika Berpulang

Pada 27 april 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS. Santa Karolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung dan diabetes.

Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 april, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.

Kondisinya sempat drop lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para fans yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermuth dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.

Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00 kemarin. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.

Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.

Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.

Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.

Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu internationale dan dinyanyikan di antara pelayat.

Internasionale: *Versi bahasa Rusia Интернатсайонал

Вставей, прокльят'ием заклиеимиенний, Мир Виеса голодних я рабов! Кипит наш разам возмушчиенний Я v смйертний мальчик виести готов. Мир Виеса назил'я мой разрушим Сделайте основан'я, затием Мой наш, мой новий мир построим: Кто бил ничием, суммируйте станиет всайем! Это ест' наш послиедний Я риешитиел'ний мальчик. S Интернатсайоналом Прут Воспрьяниет людской.

*Versi bahasa Perancis L'Internationale

Debout, les damnés de la terre Debout, les forçats de la faim La raison tonne en son cratère C'est l'éruption de la fin Du passe faisons table rase Foules, esclaves, debout, debout Le monde va changer de base Nous ne sommes rien, soyons tout

C'est la lutte finale Groupons-nous, et demain (bis) L'Internationale Sera le genre humain

*Versi bahasa Inggris The Internationale

Arise ye workers from your slumbers Arise ye prisoners of want For reason in revolt now thunders And at last ends the age of can't. Away with all your superstitions Servile masses arise, arise We'll change henceforth the old tradition And spurn the dust to win the prize.

So comrades, come rally And the last fight let us face The Internationale unites the human race. So comrades, come rally And the last fight let us face The Internationale unites the human race.

Versi bahasa Indonesia *Versi Partai Komunis Indonesia (1951-1965)

Internasionale

Bangunlah kaum jang terhina, Bangunlah kaum jang lapar. Kehendak jang mulja dalam dunia Senantiasa tambah besar. Lenjapkan adat dan faham tua kita Rakjat sedar-sedar. Dunia sudah berganti rupa Untuk kemenangan kita.

Perdjuangan penghabisan, Kumpullah berlawan. Dan Internasionale Pastilah didunia.

Sumber: Situs Indo-Marxist

Internationale diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Belanda oleh Ki Hadjar Dewantara dan dipopulerkan PKI selama tahun 1951-1965. Terjemahan syair-syair Internationale itu oleh komunis internasional dianggap telah menghilangkan roh proletariat, sehingga CC PKI mendapat celaan keras.

Pada 19 Desember 1948, Amir Sjarifuddin beserta 10 tokoh clash Madiun 1948 juga menyanyikan Indonesia Raya dan Internationale sesaat sebelum dieksekusi.

Versi Yuwinu

Bangunlah kaum yang terhina, Bangunlah kaum yang lapar! Dendam darah menyala-nyala, Kita berjuang `ntuk keadilan. Hancurkan dunia lama sampai kedasar-dasarnya! Dunia baru kita ciptakan, milik s'luruh kaum pekerja!

Perjuangan penghabisan, Berstulah berlawan! Internasionale pastilah didunia!

Tiada "pengasih" dan "penyayang", Tiada dewa atau raja; Kebah'giaan umat manusia Pasti kita sendiri cipta. Musnakan b'lenggu penindasan, Rebut hasil jerih kerja! Kobarkan api, seg'ra tempat selagi baja membara!

Perjuangan...................

Kitalah kaum pekerja s'dunia, Tent'ra kerja nan perkasa. Semuanya mesti milik kita, Tak biarkan satupun penghisap! Kala petir dahsyat menyambar Diatas si angkara murka, Tibalah saat bagi kita surya bersinar cemerlang!

Perjuangan...................

Teks bahasa Indonesia ini adalah konsep saduran yang dikerjakan oleh A.Yuwinu berdasarkan teks bahasa Tionghoa dan bahasa Rusia. Diumumkan untuk pertama kali pada tanggal 31 Mei 1970, kemudian disusun kembali dengan ejaan bahasa Indonesia yang baru. [1]

*Lagu Darah Juang Darah Juang adalah lagu perjuangan mahasiswa Indonesia yang lahir di era reformasi sejak menjelang jatuhnya Orde Baru. Lagu ini karangan aktivis John Sonny Tobing, Ketua KM UGM pertama mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta sekitar tahun 1990. Lirik lagu ini dikerjakan bersama Andi Munajat (Fakultas Filsafat UGM) Lagu ini kemudian kerap dinyanyikan dan dianggap sebagai lagu wajib dalam setiap demonstrasi mahasiswa di seluruh Indonesia.

Lirik

Di sini negeri kami tempat padi terhampar luas samuderanya kaya raya tanah kami subur, Tuhan.

Di negeri permai ini berjuta rakyat bersimbah luka anak kurus tak sekolah pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar Bunda, relakan darah juang kami tuk membebaskan rakyat

padamu kami berjanji padamu kami berbakti tuk membebaskan rakyat

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home