Thursday, July 21, 2005

KOLONISASI

Foto: Helen Courtney dan Rian SE-ABAD KOLONISASI LAMPUNG (SUMATRA SELATAN)

100 tahun lalu, sebuah kapal bersandar di pelabuhan pesisir Selatan Lampung sekarang Gudang Agen Teluk Betung, membawa 155 orang Jawa yang bermigrasi. Mereka adalah cikal bakal kolonisasi pertama di Indonesia

20 Juli 2005, seorang Mahasiswi Fakultas Geografi Brighton University Inggris, mengajak saya menjadi pemandu di desa Begelen Gedongtataan Lampung Selatan. Dia sedang mengadakan riset tentang kebudayaan Jawa di daerah transmigrasi. Helen Courtney, nama gadis Bule 21 tahun yang tidak bisa berbahasa indonesia itu. Dosen pembimbingnya di Brighton University menganjurkan Helen meneliti Desa Bagelen yang merupakan desa pertama Kolonisasi Hindia Belanda berumur satu abad 1905—2005. Desa Bagelen Gedong Tataan Lampung Selatan, berjarak 18 kilometer dari Bandar Lampung. Yang mulanya dihuni oleh warga Cina. Saya dan Ria seorang teman yang membantu Helan menerjemahkan pertanyaan untuk warga desa, mendatanggi lima dusun di desa Bagelen. Kedatangan kami bertiga di sambut antusias oleh warga dusun. Anak kecil di dusun lima bernyayi “Bule masuk Kampung” sepanjang jalan menuju rumah kepala dusun. Desa Bagelen di siang hari tampak sepi, pekerjaan warga yang sebagian besar bertani, sudah meninggalkan rumah pagi hari dan kembali pada senja hari. Namun kepala dusun yang sudah tahu tentang kedatangan kami, sudah bersiap mengumpulkan warga di rumahnya. Dusun pertama yang didatanggi adalah dusun empat. Disana kami diajak melihat lokasi pembangunan Musium Transmigrasi terbesar di Indonesia.

Satu abad lalu, sebuah kapal bersandar di pelabuhan pesisir Selatan Lampung (sekarang Gudang Agen Teluk Betung, Red). Kapal tersebut membawa 155 orang Jawa yang bermigrasi atas perintah Tuan Salweck sebagai kepala Keresidenan Kedu, yang membawahi lima daerah yaitu Kutoredjo, Purworedjo, Klaten, Kebumen, dan Karanganyar. Mereka adalah cikal bakal kolonisasi pertama Hindia Belanda untuk mengarap lahan dan hutan di Sumatra.

Setelah satu hari beristirahat di sebuah Gudang Garam di teluk betung, rombongan berjalan menuju Pacinan Gedong Tataan. Perjalanan kegedong Tataan memakan waktu tiga hari jalan kaki. Fakta ini juga diperkuat oleh sosiolog Belanda Hj Herren, sebagai mana dilangsir majalah Dewi edisi September 1980. Pada waktu itu daerah Teluk Betung banyak ditumbuhi pohon kelapa. Karna belum ada jalan, rombongan harus menerobos hutan dan batang pohon yang sudah tumbang. Bahkan binatang buas seperti harimau, babi, kera, masih sering terlihat.

Penduduk desa Bagelen Purworedjo, Jawa Tengan, dipindahkan kegedong tataan lampung dengan biaya penuh dari pemerintaha Hindia Belanda. Sampai ditempat pemukiman, mereka tinggal di rumah bedeng panjang. Setiap keluarga di bekali alat alat dapur, alat pertanian, beras, dan semua bahan makanan selama setahun, sampai bisa berdiri sendiri. Pak Darmo mengutip cerita Ayahnya, Kertoredjo: “dulu, orang orang berkerja membuka hutan, menebang pohon. Mereka dikumpulkan dengan bunyi kentongan dan di absen. Upah kerja sehari 30 sen.” Belanda menahan siapa saja yang coba melarikan diri.

Kertoredjo pada tahun 1908 adalah lurah kedua menggantikan Dipoyono yang pulang ke Jawa. Sebagai lurah Kertoredjo hanya diberi tunjangan 20 Gulden sebulan. Setelah mundur dari jabatan lurah 1915, Kertoredjo hanya menjadi sesepuh warga Transmigran di Bagelen. Putra sulungnya Ambar menjadi lurah di desa transmigran yang baru, Pringsewu tahun 1927.

Perjuangan hidup para kolonis di Lampung umumnya cukup berat, dalam mengolah lahan dan hutan belukar. Masih banyak binatang buas dan sengketa tanah dengan penduduk asli sering terjadi. Tanah yang dipatok untuk menandakan lahan garapan, sering di cabut oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Para kolonis di Gedong Tataan, mengenal daerah Kedodong dan kurungan nyawa sebagai daerah yang gawat. Warga yang sendirian lewat jalan di daerah Kurungan Nyawa pasti mati di bunuh perampok. Diporedjo, adik dari Kertoredjo yang berkerja sebagai pegawai kantor pos. selalu meminta tolong kakanya Kertoredjo yang memegang senjata api untuk mengantar surat Ketanjung Karang. Perangko yang digunakan waktu itu bergambar Ratu Belanda Wilhelmina.

***

Selanjutnya Edisi 3 Majalah Teknokra Akan mengupas Habis Buku bertulisan aksara Jawa terbitan Bale-Poestaka Hindia Belanda, memuat 23 foto. Foto foto tersebut adalah bukti otentik dimana kapal yang ada di dalam foto membawa boboyongan atau rombongan kolonisasi pertama di tanah Sumatra. Walau sudah ada nomor registrasi di kiri atas koper buku yang menguning itu, tahun berapa buku itu dicetak tidak diketahui.

Buku yang sudah termakan usia itu berjudul Karoharjaning Putiyang ing sami boyongan dateng gedong tataan dan di bawahnya nama penerbit yang bertulisan UITGAV VAN DE COMMISSIE VOOR DE VOLKSLECTUUR. WEDELAN dan ditutup dengan tulisan BALE-POESTAKA.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home