Friday, May 21, 2004

Wawancara: Dr Hidayat Nur Wahid MA,

Sebagai partai yang menyatakan dirinya sebagai partai kader, banyak kalangan yang mengatakan bahwa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mempunyai basis dominan di kampus. Namun, apakah dominasi PKS di kampus adalah salah satu penyebab munculnya prediksi akan ‘kemandulan’ gerakan mahasiswa nanti? Sebagai akibat mahasiswa yang telah asyik masuk berpartai dan berpolitik praktis? Berikut jawaban Dr Hidayat Nur Wahid MA, Presiden PKS ketika diwawancarai wartawan Teknokra, Ahmad Wildan dan Yudi Nopriansyah saat di Lampung beberapa waktu lalu.Bagaimana tanggapan Anda tentang dilegalnya kampus sebagai ajang berkampanye? Dan sepertinya partai Anda lebih mendominasi? Mengapa kami memulai gerakan mengambil segmen kampus? Karena menurut kami sebelum ada era partai pun kami sudah aktif di kampus. Jelas sekali jika kita ingin melakukan kaderisasi untuk bangsa ini, maka segmentasi yang diambil adalah yang muda, tak ada kader yang tua, jadi bukan kaderisasi tapi grontologi. Dan kalangan muda juga dari yang terdidik, terpelajar, dan sangat mudah untuk menerima perubahan. Rasionalisme dan sebagainya berada di kalangan kampus. Jadi kalangan kampus adalah kalangan yang secara umum tidak terkontaminasi oleh dikotomi dan juga pengkotakan-pengkotakan berdasarkan Ormas, Orpol, atau generasi. Mereka adalah kelompok yang sangat mungkin melakukan terobosan-terobosan, dan kami melihat bahwa Indonesia ini tidak bisa disesuaikan dengan cara-cara konvensional perlu memerlukan terobosan – terobosan, dan terobosan itu harus kami lalui dengan melakukan kaderisasi. Kaderisasi melalui dari kelompok – kelompok yang mungkin dikaderkan juga adalah kalangan dari kampus. Apakah tidak bertentangan dengan nurani gerakan mahasiswa dengan mencemarinya? Tidak akan ada. Pencemaran hanya akan terjadi bila partai politiknya busuk. Tapi kalau parpolnya tak busuk, maka dimanapun parpol itu tidak akan cemar. Sebaliknya tak serta merta gerakan mahasiswa di kampus tanpa parpol menjadi tidak busuk. Saya tahu persis! Saya dosen di kampus dan saya tahu bagaimana masyarakat kampus, jadi busuk atau tidak busuk gerakan dikampus tidak terkait dengan parpol. Tapi dengan jati diri gerakan itu sendiri. Kalau gerakan itu memang busuk, tidak terkait dengan parpol pun dia akan busuk. Dan kalau parpolnya memang bagus, berhubungan dengan pihak manapun, dengan kampus, dengan pesantren, dengan dunia usaha, dengan kelompok manapun dia tidak akan busuk. Jadi melihat sesuatu itu mencemarkan atau tidak bukanlah dari relasi partai tersebut atau kampus tapi pada jati diri masing-masing. Bagaimana dengan kekhawatiran seperti pada Pemilu 1971, semua gerakan diarahkan sebagai gerakan intraparlementer? Ya, kalau kami memahami begini, bahwa parlemen adalah salah satu dari pengkaderan. Yang kami lakukan tetap jelas. Dalam cara pandang kami tentang Islam yang holistik, itu tidak mungkin hanya kemudian hanya satu alternatif parlementer saja atau intraparlemneter, ekstraparlementer tetap harus dilakukan.Tetapi, baik intra maupun ekstra tak boleh kemudian permanen saling menegasikan maupun permnen saling mendukung. Keduanya harus dalam kata harus dalam konteks adil.Adil itu adalah dimanapun Anda kalau benar saya akan dukung. Apakah Anda dalam parlemen, intraparlemen atau ekstraparlemen. Dimanapun Anda kalau salah baik di intra maupun ekstra, ya akan kami kritisi. Lalu dengan partai-partai yang mulai memasuki kampus dengan under bouw-under bouw partai, bagaimana pendapat bapak bila nanti gerakan mahasiswa akan terpecah dengan dukung mendukung? Kalau anda mengerti tentang sejarah mahasiswa Indonesia, tidak perlu ada nduruk kawik, kalau mahasiswa mau berantem tidak usah pakai partai juga berantem. Di Jakarta itu mas, berantemnya antara Trisakti dan Gunadarma tidak perlu ada partai, ya berantem berantem saja, berantemnya YAI dan UKI juga tidak ada partai ya berantem aja, jadi berantem atau tidak berantemnya mahasiswa tidak ada hubungan nya dengan partai. Maksudnya partai-partai yang memiliki under bouw di gerakan mahasiswa, seperti HMI atau KAMMI misalnya? Tidak masalah! Jadi yang dimasalahkan adalah ketika Anda punya under bouw, apa yang Anda lakukan dengan under bouw itu? Tapi under bouw Anda dengan Anda itu akan selalu terkait dengan prilaku Anda itu seperti apa sih? Partai politik kalau memang dia adalah preman, kalaupun dia punya under bouw, ya under bouw-nya juga preman, tapi kalau parpolnya bagus underbouw-nya bagus tapi, mengesankan bahwa solah-seolah parpol di antara mahasiswa hanya karena berhubungan denangan parpol itu juga ahistory, itu asosiologis. Jadi, apakah nanti PKS akan ikut meramaikan kampanye kampus di Unila? Ya, kami secara prinsip siap saja untuk itu bila kampus juga mempersiapkan untuk itu, dan kampus juga tidak memungut bayaran.Jadi kampus juga benar-benar menyiapkan diri untuk menjadi suatu komersialisasi,mereka meminta bayaran tinggi kepada partai seolah-olah kampus adalah lembaga produk.Padahal kampus adalah Lembaga pendidikan, mestinya dia sangat welcome bila ada partai-partai masuk untuk pendidikan politik dan karenanya saya menegaskan disini, kami siap untuk masuk di kampus,siap berkampanye di kampus dan siap berdebat dengan mahasiswa sekalipun karena memang kami pun adalah orang kampus. Tentang pergantian pergerakan ekstraparlementer yang sekarang ini, mahasiswa sekarang idealnya menurut Anda seperti apa? Anda akan tahu bahwa mustahil gerakan mahasiswa semuanya akan menjadi gerakan intraparlementer. Jadi pasti akan ada yang ekstra parlementer. Tidak perlu Anda mengesankan bahwa seolah-olah begitu ada partai masuk kampus, sertamerta gerakan mahasiswa akan menjadi intraparlementer. Tidak akan bung! Sepanjang sejarah mahasiswa sampai hari ini, sampai yang akan datang pun akan selalu terjadi sunatullah. Di mana akan ada yang ekstra ada juga yang intra dan itu tidak masalah. Adalah bagian dari tantangan sejarah. Tidak sertamerta mereka yang bergerak di intraparlemen jadi suci atau sertamerta yang di intra menjadi kotor atau sebaliknya. Dan di ekstraparlementer saya juga punya amat sangat banyak bukti bahwa mereka juga lebih jorok. Daripada yang di intraparlementer. Jadi penyebabnya bukan yang di ekstra itu lebih baik daripada yang di intra. Sebenarnya ada sebuah tantangan sejarah dan mari kita buktikan! Jadi mahasiswa sudah ikut terjun langsung dalam politik praktis begitu? Tentang kampanye politisi busuk yang lagi ramai, bagaimana dengan kiat-kiat dari PKS? Kampanye politisi busuk awalnya bagus. Tetapi berikutnya malah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan busuk! Maksudnya Anda? Maksudnya adalah mereka-mereka yang kemudian mempergunakan kampanye antipolitisi busuk untuk melakukan funeralisasi terhadap apapun yang ada di parlemen. Sebagai yang otomatis juga busuk. Misalnya partai yang gagal mencegah undangkannya undang– undang tentang perburuhan. SK nya sudah dikritik setengah mati dan diundangkanya karena faktor voting, tiba-tiba partai itu dinobatkan sebagai politisi busuk atau partai busuk , itu adalah suatu hal yang tidak bertanggung jawab. Jadi saya ingin mengatakan bahwa kampanye politisi busuk akan menjadi baik kalau mempunyai kriteria-kriteria yang jelas dan mempunyai keberanian mengungkapkan sesuatu berdasarkan bukti, tapi kalau hanya asal sebut, asal teriak itu akan menimbulkan pembusukan terhadap gerakan anti politisi busuk yang akibatnya adalah akan menyelamatkan para politisi busuk karena mereka kan tetap menjadi sesuatu yang seolah-olah dilindungi. Jadi saya ingin mengatakan bahwasanya bagi kami gerakan ini adalah suatu hal yang harus tetap dikritisi dan mahasiswa yang mengemukakan hal itu. Dan nama-nama harus berani duduk di pengadilan. Kalau mereka hanya melakukan pembusukan gerakan antipolitisi busuk.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home